
Penulis: Muhammad Ilham Alfaza’ (2025015082)
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Pendidikan merupakan kunci utama dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia di suatu negara. Keberhasilan suatu proses pendidikan mampu dilihat dari seberapa matang kurikulum itu dirancang. Keberhasilan ini juga tidak luput dari seberapa efektif suatu kurikulum itu diterapkan dalam setiap tingkatan lembaga pendidikan yang ada. Dengan kata lain, kemajuan pendidikan di Indonesia ditentukan oleh seberapa baik pusat, dalam hal ini diwakili oleh Kementerian Pendidikan merancang kurikulum dan bagaimana cara masing-masing lembaga pendidikan menerapkan kurikulum yang telah disahkan. Oleh karena itu, perubahan kurikulum merupakan tolak ukur kemajuan peradaban pendidikan.
Indonesia telah menerapkan dan kembali menciptakan kurikulum baru yang terlihat memliki pola yang serupa, yakni dirancang dan disahkan setelah perubahan pengisi posisi Kementerian Pendidikan di setiap perputaran roda pemerintahan. Seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang lebih dikenal dengan KTSP, Kurikukum 2013 yang tebih dikenal dengan Kurtilas, dan Kurikulum Merdeka yang kini dikombinasikan dengan sistem Deep Learning.
Masing-masing kurikulum yang telah dijalankan tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya. Tidak hanya itu, banyak tantangan baru yang perlu dihadapi. Tentunya setiap masalah yang ada pada kurikulum sebelumnya tidak bisa ditelan secara mentah-mentah dan hanya diselesaikan dengan mengganti kurikulum yang ada serta merancang kurikulum baru sebagai solusi.
Tentunya kurikulum yang dirancang ternyata masih belum optimal penerapannya dan masih membawa berbagai masalah, salah satunya pada lingkungan sekolah dasar. Masih terdapat lubang besar yang belum teratasi dengan adanya rotasi kurikulum ini pada jenjang sekolah dasar.
Salah satu yang paling terlihat yakni kemampuan literasi yang masih sangat tertinggal jika dibandingkan dengan negara yang ada di ASEAN. Selain itu, ketimpangan mutu antar sekolah dasar, kualitas tenaga pengajar, hingga beban kurikulum yang nampak tidak sesuai tahap perkembangan sekolah dasar yang seharusnya masih menjadi momok menakutkan bagi masa depan pendidikan Indonesia.
- Rumusan Masalah
- Apa yang menjadi konsentrasi pada KTSP 2006, Kurtilas, dan Kurikulum Merdeka?
- Apa kelebihan, kekurangan pada KTSP 2006, Kurtilas, dan Kurikulum Merdeka?
- Bagaimana seharusnya kurikulum ideal yang mampu menyelesaikan masalah yang ada pada kurikulum saat ini namun tetap meminimalkan masalah pendidikan di masa mendatang?
- Tujuan Penulisan
- Menjelaskan konsentrasi pada setiap kurikulum yang ada yakni KTSP 2006,Kurikulum 2013, dan Kurikulum Merdeka.
- Menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari setiap kurikulum yang selama ini telah dihadirkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan.
- Menganalisa dan mencoba menciptakan gagasan baru dalam pembuatan kurikulum yang mampu menyelesaikan masalah mendasar dan meminimalkan potensi masalah pendidikan di masa mendatang.
- Manfaat
- Menambah pengetahuan tentang kurikulum yang ada yakni KTSP 2006 kurikulum 2013, dan kurikulum Merdeka serta menganalisa konsentrasi, kelebihan dan kekurangan, serta
- Menambah gagasan tentang bagaimana seharusnya kurikulum yang ideal, tepat guna dan mampu menyelesaikan masalah yang selama ini masih menjadi halangan dalam memajukan pendidikan sekolah dasar di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
- Identifikasi Detail Tentang KTSP 2006, Kurtilas, Kurikulum Merdeka
Perkembangan yang terjadi dalam pendidikan di Indonesia tak lepas dari lika-liku yang ada. Salah satunya adalah dengan pergantian kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah melalui kementerian terkait. Sejarah telah mencatat bahwa pergantian kurikulum telah dilaksanakan setiap satu dekade sekali. Dimulai dari orde lama hingga pasca reformasi, telah terjadi 11 kurikulum yang sudah dirancang dan dijalankan oleh pemerintah. Diantaranya adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang berlangsung pada tahun 2006. Kemudian Kurtilas yang sesuai namanya yaitu kurikulum yang dijalankan pada tahun 2013. Serta Kurikulum Merdeka yang diimplementasikan pada tahun 2017.
Namun, pada praktiknya setiap kurikulum yang dirotasi dan dirancang sebagai alternatif masih meninggalkan masalah mendasar yang selalu terbekas dalam setiap langkah perkembangan peradaban pendidikan di Indonesia, khususnya di jenjang sekolah dasar. Diantaranya pemahaman dasar siswa SD seperti calistung (baca, tulis, dan hitung) yang masih memprihatinkan. Oleh karenanya, penting untuk memahami kurikulum yang telah berlangsung dalam kurang lebih 2 dekade terakhir, yaitu KTSP 2006, Kurtilas, Kurikulum Merdeka.
- Konsentrasi Yang Terdapat Pada KTSP 2006, Kurtilas, Kurikulum Merdeka
- KTSP 2006:
Kurikulum ini memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada sekolah untuk menyusun kurikulum sesuai kebutuhan siswa dan karakteristik sekolah.
- Kurtilas (kurikulum 2013):
Kurikulum ini berfokus pada
- Aspek penguatan pendidikan karakter,
- Penambahan mata pelajaran tematik terpadu yang dirancang sebagai gabungan dari mata pelajaran yang sudah ada, dan
- Penilaian autentik yang melibatkan aspek penilaian sikap. penilaian pengetahuan dan penilaian keterampilan.
Kurikulum ini juga meneruskan konsep soal High Order Thinking Skill yang sudah dikenalkan pada KTSP 2006 (Mulyasa, E. 2013).
- Kurikulum Merdeka
Kurikulum ini berfokus pada pembelajaran berdiferensiasi yang menerangkan bahwa setiap individu siswa tidak bisa diberikan standar yang kaku dalam bidang kognitif. Hal ini juga menerangkan bahwa siswa tidak ada paksaan untuk menguasai beberapa aspek, seperti kognitif dan keterampilan dalam waktu yang sama. Kurikulum ini juga menegaskan pentingnya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Serta tidak melanjutkan mata pelajaran tematik terpadu pada jenjang sekolah dasar.
- Kelebihan dan kekurangan KTSP 2006, Kurtilas, Kurikulum Merdeka
- KTSP 2006
| Kelebihan | Kekurangan |
| Merupakan kurikulum yang fleksibel dimana setiap sekolah diberikan otonomi untuk menyusun kurikulum sesuai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang sudah dibuat oleh pemerintah pusat. | Sumber belajar terpadu yang masih terbatas. Hal ini dikarenakan sarana dan prasarana seperti pengadaan buku literasi yang masih belum memadai (Ramadhani, K, Z. Hikmah, M. Nadiati. Saputra,S. 2025) |
| Kurikulum ini mampu menciptakan pembelajaran yang kontekstual, yaitu kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan karakter dan kondisi di masing-masing sekolah. | Memiliki dampak jangka panjang berupa akan menciptakan jarak antar sekolah yang lebih mampu mempersiapkan KTSP dan yang masih belum siap (Nisa, K. 2023). |
- Kurtilas
| Kelebihan | Kekurangan |
| Pembelajaran di sekolah akan mengharuskan siswa agar aktif dan kreatif. Peran guru sebagai fasilitator mulai diupayakan agar guru mampu lebih kreatif dalam mempersiapkan dan dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar atau KBM (Uran,L,L. 2018). | Kesiapan guru, sarana prasarana, dan siswa belum siap dengan tuntutan kurikulum. Hal ini juga dipengaruhi oleh kurikulum sebelumnya yang jauh lebih fleksibel jika dibandingkan kurikulum ini yang penuh dengan silabus yang kaku dan kompleks (Qomariyah, Q. 2014) |
| Memaksimalkan potensi siswa dengan memperbanyak jumlah soal yang menuntut daya berpikir kritis dan HOTS. | Pada praktik di lapangan, siswa justru merasa jauh lebih terbebani dengan soal akademis yang dirasa tidak sesuai dengan kemampuan mereka. Hal ini mengakibatkan kesenjangan kemampuan akademis siswa dalam satu kelas jauh lebih terlihat. |
- Kurikulum Merdeka
| Kelebihan | Kekurangan |
| Memiliki fokus dimensi pembelajaran baru seperti P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Hal ini diharapkan agar siswa memiliki profil sebagai pelajar Pancasila melalui kegiatan sosial yang disesuaikan dengan silabus dan kebijakan yang diterapkan di setiap sekolah. | Kesiapan guru, sarana prasarana, dan siswa belum siap dengan tuntutan kurikulum. |
| Memberikan kesempatan seluas-luasnya agar alur pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. | Perencanaaan sistem dibalik layar pendidikan belum dirancang dengan baik sehingga perlu waktu lebih sambil kurikulum ini dijalankan. |
- Merancang Kurikulum Yang Ideal Bagi Pendidikan Indonesia
- Visi Kurikulum
Mewujudkan lulusan yang: Memiliki kemampuan kognitif, adaptif terhadap perkembangan zaman dan tetap memiliki landasan dan profil Pancasila.
- Pendekatan Kurikulum
Model kurikulum ini berbasis kompetensi yang sudah ada pada KTSP 2006, berpusat pada siswa seperti yang sudah dikenal di Kurikulum Merdeka dengan student centered learning, dan melek terhadap perkembangan zaman yang terjadi dan adaptif dan selektif terhadap arus globalisasi seperti yang sudah diterapkan pada Kurtilas. Juga dengan mengembangkan project based learning yang sudah dijalankan melalui Kurikulum Merdeka.
- Komponen Kurikulum Ideal
- Tujuan Pembelajaran Berbasis Kompetensi
Diharapkan kurikulum ini mampu sejalan dengan visi yang ada dengan menggabungkan kompetensi:
- Inti: Sikap, kognitif , psikomotorik
- Abad 21: Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication (4C skills)
- Digital & Media Literacy dan Problem Solving
- Profil pelajar Pancasila: religius, gotong-royong, rasa tanggung jawab.
- Struktur Kurikulum
- Struktur Modular dan Fleksibel
Modul Inti (nasional): Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Pendidikan Pancasila & Karakter.
- Modul pilihan dan peminatan (lokal & disesuaikan dengan minat dan bakat siswa): teknologi, kewirausahaan, seni budaya, lingkungan hidup, kesehatan, coding, kewirausahaan digital.
- Project/Authentic Learning: pembelajaran berbasis proyek nyata (project based learning).
Setiap modul diformat dengan standar kompetensi dan indikator kemampuan yang jelas di setiap sekolah agar lulusan yang dicetak dari sekolah tersebut mampu meraih hasil yang maksimal dan sesuai harapan.
- Pendekatan Pembelajaran
- Pembelajaran Aktif & Kontekstual
- Student centered learning
- Project based learning
- Kolaboratif dan berbasis pengalaman (experiential learning).
- Pembelajaran Diferensiasi
- Mengakomodasi kemampuan siswa yang beragam, termasuk kebutuhan khusus bagi siswa luar biasa dan disesuaikan budaya di daerah tersebut.
- Penguatan Karakter dan Pendidikan Pancasila
- Diintegrasikan dalam setiap mata pembelajaran, bukan hanya sebagai mata pelajaran terpisah.
- Asesmen dan Evaluasi
Penilaian Autentik & Berdiferensiasi Menggunakan
- Portofolio
- Observasi performa
- Project outcome/presentasi
- Refleksi proses belajar
- Peer and self-assessment
Penilaian dirancang agar mencerminkan kompetensi 4C dan tujuan karakter, bukan hanya angka dan data semata.
- Peran Guru dan Profesionalisme
- Guru sebagai Fasilitator & Desainer Pembelajaran
- Peningkatan kompetensi profesional guru agar mampu merancang pembelajaran yang inovatif dan kontekstual.
- Sertifikasi berkelanjutan dan pelatihan penerapan teknologi seperti sistem pembuatan raport dll.
- Alur Implementasi Kurikulum
- Perencanaan Kurikulum Sekolah
- Analisis kebutuhan lokal
- Penetapan modul nasional dan lokal/pilihan
- Pengembangan Materi & Pedoman Guru
- Pelaksanaan Pembelajaran yang Fleksibel
- Asesmen Berkelanjutan
- Evaluasi Kurikulum Secara Berkala
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan terhadap perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa setiap kurikulum yang pernah diterapkan, seperti KTSP 2006, Kurtilas, dan Kurikulum Merdeka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. KTSP 2006 menekankan fleksibilitas dan otonomi sekolah dalam menciptakan pembelajaran yang kontekstual. Kurtilas menghadirkan pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi dan karakter, tetapi implementasinya masih menghadapi tantangan kesiapan sumber daya manusia dan sistem pendukung yang belum maksimal. Sementara itu, Kurikulum Merdeka menawarkan kebebasan belajar dan pembelajaran berbasis proyek yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Namun seperti Kurtilas, implementasinya masih menghadapi tantangan kesiapan sumber daya manusia dan sistem pendukung. Oleh karena itu, kurikulum ideal bagi pendidikan Indonesia perlu mengintegrasikan fleksibilitas kontekstual, penguatan kompetensi abad ke-21, serta penanaman nilai-nilai Pancasila secara menyeluruh.
- Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis mengharapkan agar mahasiswa calon guru, pemahaman terhadap dinamika kurikulum menjadi bekal penting untuk menghadapi perubahan kebijakan pendidikan. Calon guru dituntut untuk memiliki kemampuan adaptif, reflektif, dan inovatif agar mampu mengimplementasikan kurikulum secara efektif sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan konteks sosial-budaya sekolah
DAFTAR PUSTAKA
Said, H. (2017, November). Literacy Education for Better Ranking in Global Competitiveness. In INTERNATIONAL CONFERENCE ON EDUCATION (Vol. 1, No. 1).
Mulyasa, E. (2013). “Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013”. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rahim, A., & Ismaya, B. (2023). Pendidikan karakter dalam kurikulum merdeka belajar: tantangan dan peluang. Journal Sains and Education.
Nisa, K. (2023). Analisis Kritis Kebijakan Kurikulum: Antara KBK, KTSP, K13 Dan Kurikulum Merdeka. Ar-Rosikhun, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 2(2), 118-126.
Ramadhani, K, Z. Hikmah, M. Nadiati. Saputra,S. (2025). Pengembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia. Perbandingan KTSP 2006 Dan Kurikulum 2013. QOUBA, Jurnal Pendidikan.
Uran,L,L. (2025). Evaluasi Implementasi KTSP Dan Kurikulum 2013 Pada Smk Se-Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan, 22(1).Qomariyah, Q. (2014). Kesiapan Guru Dalam Menghadapi Implementasi Kurikulum 2013. Ekonomi IKIP Veteran Semarang, 2(1).